Setelah menempuh perjalanan yang panjang selama kurang lebih 8 jam, akhirnya kami tiba di Bandara Narita pada tanggal 10 September 2009. Bersyukur pada Tuhan perjalanan kami lancar tanpa kekurangan suatu apapun, walau ada perasaan gamang untuk memulai kehidupan baru di Tokyo. Ini memang bukan perjalanan wisata, tapi ini adalah perjalanan untuk menempa hidup, menjadi lebih baik, lebih terasah dan terlatih.
Bandara Internasional Narita sangat besar, semua fasilitas dan pelayanan tersedia sangat baik. Semua petunjuk di Bandara menggunakan dua bahasa, sehingga sangat memudahkan kami.
Toilet pertama yang kukunjungi membuat aku kaget dan malu karena saat masuk aku menerobos antrean. Ternyata cara antri di sini tidak di depan pintu toilet (spt di Indonesia)melainkan agak jauh dekat pintu masuk. Kaget karena mendapat toilet jongkok yang bentuknya aneh (sumpah!! belum pernah lihat sebelumnya). Bingung mo menghadap kemana jongkoknya (sekarang aku tahu itu model toilet jongkok Jepang)
Setelah urusan imigrasi dan bagasi selesai, suamiku membeli tiket kereta menuju apartemen kami di daerah Gyotoku, Chiba. Skyliner, kereta yang nyaman dan bersih (jadi ingat naik Argo Lawu waktu masih baru). Kami turun di Stasiun Funabashi untuk ganti kereta menuju Nishi Funabahi, lalu ganti lagi kereta menuju ke Gyotoku.
Sungguh perjalanan awal yang melelahkan. Suamiku menggendong ransel besar dan mendorong koper, aku ransel kecil dan koper. Bagas dan Damar masing masing satu ransel kecil.
Sampai di Gyotoku, capek dan lapar, suamiku langsung mengajak makan. Makanan Jepang, daging dimasak teriyaki. Kami semua makan dengan lahap dan cepat, karena tidak sabar untuk tiba di rumah.
Ternyata kami masih harus jalan kaki menuju ke rumah. Kata suamiku jaraknya tidak sampai 1 km dan cuma 5 menit jalan kaki. Tapi saat itu rasanya kami harus jalan 5 km.
Akhirnya kami sampai juga, lega dan bahagia, karena disinilah kehidupan baru akan kami mulai.